Showing posts with label Kisah Muallaf. Show all posts
Showing posts with label Kisah Muallaf. Show all posts

10 June 2012

Abdul-Rahman: Alquran Menuntunku pada Islam

Abdul-Rahman: Keajaiban Alquran Menuntunku pada Islam
Abdul-Rahman
SatriaBone-Abdul-Rahman adalah lelaki muda asal Amerika yang masuk Islam saat masih kecil. Dia tahu dan yakin akan Islam pada usia 12 tahun dan menjadi Muslim setelah membaca autobiografi Malcolm X.

Sejatinya, Abdul lahir dari keluarga Kristen. Namun, ia mengaku sangat jarang mempraktikkan agamanya itu. Ia dan keluarganya pergi ke gereja hanya beberapa kali, yakni hanya saat natal, paskah dan liburan.

Tuhan, katanya, hanya ada pada hari Ahad di gereja untuk keluarganya dan tidak di luar gereja. Menurutnya, banyak keluarga di Amerika Serikat yang sama seperti keluarganya.

Semakin menginjak remaja, Abdul berpikiran logis. Ketika ia berusia sebelas atau dua belas tahun, ia mulai berpikir mengenai keberadaan Tuhan dan dirinya. Ia bertanya pada dirinya, ''Benarkah Tuhan ada?''

Pertanyaan tersebut, kata Abdul, didorong oleh bentrokan antara agama dan sains, rasionalitas dan agama. Ia berpikir bahwa tradisi kembali ke gereja di Eropa dan selalu ada perdebatan antara gereja, pengetahuan, dan kemajuan.

Ketika Abdul membandingkan Alkitab yang berisi trinitas dan keyakinan Kristen lainnya, ia membandingkan dengan ilmu pengetahuan, evolusi, dan fakta. ''Saya lebih yakin dengan ilmu pengetahuan dan memilih untuk tidak percata Tuhan,'' kata pria muda berkopiah ini.


                                                                    ***


Perkenalan pertama Abdul dengan Islam bermula ketika temannya -- Michael Dan -- menjadi Muslim. Ketika Dan menjadi Muslim, Abdul melihat temannya itu banyak berubah.

''Sebelum masuk Islam, ia banyak melakukan kekacauan dalam hidupnya. Dia seperti akan ke jalan yang salah,'' katanya.

Kata Abdul, Dan menjadi Muslim saat usianya 15 tahum dan ia langsung berubah dan melakukan kebiasaan baik.

''Apa yang membuatmu berubah menjadi seperti ini?'' tanya Abdul kepada temannya itu.

Dan hanya menjawab banyak orang di Amerika sebelum peristiwa 9/11 tidak benar-benar tahu tentang Islam, bahkan sekarang tidak tahu banyak.


                                                                   ***

Menemukan Islam

Abdul pun mulai tertarik dengan kata Islam. ''Apa Islam dan siapa Muslim itu?'' tanya Abdul.

Dan lalu menjelaskannya. Ia sangat terkejut karena Islam sangat berdekatan dengan Kristen dan Yahudi. Hal tersebut, sangat masuk akal bagi Abdul. Ia meyakini hanya ada satu Tuhan yang mengungkapkan pesan-Nya kepada para nabi dan rasul. Para nabi juga tidak memiliki keilahian.

''Mereka dikirim oleh Allah, mereka adalah manusia seperti kita. Saya tidak benar-benar ingin masuk Islam pada waktu itu, tapi itu masuk akal bagi saya dan sangat logis,'' katanya.

Hingga akhirnya, ia membaca sebuah buku berjudul "The Autobiography of Malcolm X." Dalam buku itu, ia sangat menghargai Malcolm X yang Muslim dan ia ingin masuk Islam setelah itu karena ia melihat Islam sebagai agama yang memberi solusi untuk kasus rasisme dan masalah lain di Amerika.

''Namun saya masih tidak percaya Tuhan,'' katanya.

Tetapi kemudian, Abdul membaca di salah satu bagian buku Malcolm X yang berisi kalimat, ''Jika selangkah menuju Tuhan, maka Tuhan akan mengambil dua langkah menuju Anda.'' Dari tulisan Malcolm X itu, ia kemudian tak lagi memakan babi dan meninggalkan beberapa hal yang dilarang Islam dengan maksud agar Tuhan menuntunnya.

Abdul semakin ingin tahu, ia belajar banyak tentang Islam dan terkejut karena semakin banyak pertanyaan yang diajukan, semakin banyak pula jawaban yang masuk akal dari agama Islam. Ia membaca tentang keajaiban Alquran, keajaiban ilmu pengetahuan dan masih banyak lagi.

''Islam adalah hal paling indah dalam hidup saya. Ini adalah sumber kebaikan dan pesan bagi setiap jiwa menemukan tujuan dan kebahagiaan sejati,''katanya.

Ia mendorong semua orang untuk mengambil langkah kepada Tuhan dan mereka akan menemukan bahwa Allah akan mengambil dua langkah kepada mereka karena itu adalah cahaya dari Allah.

''Jadi, jika Anda mengajukan pertanyaan dan Anda lebih memilih memandang dari ilmu pengetahuan atau dari jiwa atau dari orang; pergi kemana yang Anda inginkan dan saya yakin bahwa Anda akan menemukan bahwa ini adalah pesan yang Anda cari,''katanya.



READ MORE - Abdul-Rahman: Alquran Menuntunku pada Islam

Abdul Aziz: Bersyahadat karena Surah Maryam

Abdul Aziz Laia: Bersyahadat karena Kitab Suci Islam Memiliki Surah Maryam
Abdul Aziz Laia
SatriaBone-Saat remaja, seorang guru berkerudung membuatnya kagum. Beranjak dewasa, hatinya terketuk oleh materi khutbah Jumat serta kumandang tilawah Alquran yang didengarnya setiap menjelang Maghrib. Kini, pria bernama Abdul Aziz Laia itu telah menghafal tiga setengah juz Alquran.

Abdul Aziz berislam sembilan tahun lalu, setelah beberapa tahun lamanya kebenaran Islam menyusup ke dalam sanubarinya. Islam, katanya, menjawab berbagai pertanyaan dan ketidakpastian dalam agamanya. “Tak ada alasan untuk keluar dari agama Allah ini,” kata pria bernama asli Lianus Laia ini.
                                                     
                                                                            ***
Abdul Aziz. Demikian nama yang dipilihnya setelah ia memutuskan mengucap syahadat pada Januari 2002 silam. “Laia,” nama marga yang tak ingin ditanggalkannya, ia sematkan di belakang nama barunya itu. Dilahirkan dan dibesarkan di tengah keluarga Kristiani, Aziz tak pernah mengenal Islam. Terlebih di Nias Selatan, kota kelahirannya, umat Islam adalah masyarakat minoritas.

“Yang kuingat, dulu aku dan teman-teman kerap merobek gambar apapun yang disebut-sebut sebagai gambarnya orang Islam. Tapi aku sendiri tak tahu apa itu Islam,” ujar Abdul Aziz kepada Republika yang menemuinya di kampus LIPIA, Jakarta Selatan, Kamis (15/3) lalu.

Satu hal yang ia tahu tentang Muslim kala itu; mereka berbeda. Perbedaan itu ditemukannya dalam diri salah seorang guru perempuan di sekolahnya. “Aku masih ingat, dulu aku sering mengamati pakaiannya. Ia mengenakan kerudung dan rok panjang yang menutupi kakinya, tidak seperti pakaian guru-guru perempuan lain di sekolahku.”

Tak hanya itu, Aziz kagum pada bagaimana sang ibu guru berperilaku dan bertutur kata. “Akhlaknya mencerminkan kebaikan budi pekerti. Jika semua Muslim seperti itu, saya yakin akan banyak sekali orang yang tertarik pada Islam,” kata Abdul Aziz, masih dengan nada kagum.

                                                                          
                                                                           ***

Semua hanya sebatas kekaguman, hingga akhirnya Abdul Aziz menamatkan sekolah menengah pertamanya dan melanjutkan studinya ke sebuah sekolah kejuruan di Medan. Di kota itulah segalanya berawal. Aziz bekerja sebagai fotografer pada sebuah keluarga Muslim dan tinggal bersama mereka di rumah yang berdekatan dengan masjid.

Setiap hari, selama tiga tahun, Aziz mendengar rekaman tartil Alquran lengkap dengan terjemahannya dikumandangkan setiap menjelang Maghrib. Al-Anbiyaa’ dan Maryam adalah dua surah yang paling sering diputar kala itu. “Aku sangat terheran-heran kala itu. Nabi-nabi yang disebutkan dalam Alquran sama persis dengan nabi-nabi yang pernah kami (umat Kristiani) pelajari,” kata Aziz.

Berangkat dari situ, perhatian Aziz pada Islam muncul secara perlahan. Khutbah yang didengarnya setiap hari Jumat melengkapi perhatiannya dan mengubahnya menjadi keingintahuan. “Aku semakin ingin tahu lebih banyak hal tentang Islam. Dan secara perlahan pula, aku semakin jarang pergi ke gereja.”

Tak hanya itu, Aziz merasa ada yang mengetuk-ngetuk hatinya kala melihat para jamaah masjid berwudlu. “Itu seperti baptis dalam ajaran kami. Aku merasa Islam dekat dengan berbagai hal yang pernah kuketahui sebelumnya tentang agamaku.” Meski belum resmi berislam, keingintahuan yang bertambah besar setelah itu membuat Aziz memilih menjadi remaja masjid. Sesekali, ia bahkan ikut mengerjakan amalan-amalan Muslim.
                                                                      
                                                                          ***

Lulus dari sekolah kejuruan, pria kelahiran 25 Oktober 1980 ini lalu merantau ke Riau dan bekerja di sana. Dua tahun pertama di sana, katanya, ia semakin giat mendalami Islam. “Aku mulai membandingkan antara Islam dan Kristen,” katanya.

Pada waktu yang sama, Aziz mulai meragukan dogma-dogma agamanya. Seperti dogma yang mengatakan bahwa dosa-dosa umat Kristiani dihapuskan pada Natal dan tahun baru. “Ketika yang kulihat justru bahwa banyak dari kami merayakan Natal sambil mabuk-mabukan, jaminan pengampunan dosa itu mustahil,” ujarnya.

Hingga akhirnya, ia memilih salah seorang kawannya yang juga seorang penggiat masjid untuk menjawab pertanyaannya. Setelah sempat tidak mampu memejamkan mata pada malam sebelumnya, Aziz melontarkan tiga pertanyaan pada kawannya itu. “Aku bertanya tentang siapa Muhammad, bagaimana posisi Isa dan Maryam dalam Islam, dan mengapa babi haram dimakan.”

Dari uraian sang kawan, Aziz mengetahui bahwa perihal Nabi Muhammad juga disebutkan di dalam Injil, dan larangan memakan daging babi disebutkan dalam Alquran. Dan ia semakin takjub saat mengetahui bahwa Islam memiliki surah bernama Maryam, sementara agamanya tidak.

Tak ada lagi keraguan dalam hati Aziz untuk membantah kebenaran Islam saat itu. Tak ingin menunda, Aziz meminta diislamkan saat itu juga, dua minggu setelah ia merayakan Natal. Meski tak disaksikan siapapun selain Allah dan kawannya, Lianus Laia pun resmi berhijrah dengan nama Abdul Aziz Laia.

                                                                         ***
Pasca berislam, Aziz semakin menunjukkan perannya sebagai remaja masjid. Ia dipercaya sebagai ketua, diundang berbicara di berbagai masjid, dan menjadi penggagas pengajian khusus mualaf di Kecamatan Tualang Perawang, Siak, Riau. Selain itu, Aziz juga belajar membaca Alquran pada sang marbot yang mengislamkannya.

Hanya saja, Aziz merasa, ia tak banyak belajar banyak tentang Islam kala itu. Bahkan, ia malu karena tak juga mampu membaca Alquran. “Tak ada yang membimbingku mendalami agama. Namun di tengah kondisi itu, aku tak pernah absen untuk shalat berjamaah di masjid.”

Hingga akhirnya, ia bertemu seorang ustadz yang menyarankan Aziz untuk menimba ilmu agama di Jawa. Di luar dugaan, masyarakat Tualang Perawang mendukung dan bergotong royong menyiapkan biaya keberangkatannya. “Saya bertolak dari Riau dengan membawa uang sebesar 13 juta yang dikumpulkan oleh masyarakat. Subhanallah.”

Di Jawa, Aziz mula-mula menimba ilmu selama tiga bulan di sebuah pesantren di Pandeglang, kemudian setahun di Tasikmalaya. Dari kedua pesantren tersebut, Aziz merasa kebutuhannya sebagai mualaf tidak terpenuhi, dikarenakan tidak ada sistem pembimbingan khusus bagi mualaf seorang seperti dirinya.

Kondisi itu semakin parah karena Aziz mulai kehabisan bekal sehingga harus bekerja. Ia bekerja di klink pesantren dan hanya diperbolehkan ikut belajar bersama para siswa Aliyah setelah tugas-tugasnya selesai. Itupun tanpa terlibat aktif dan menerima rapor karena ia tak mampu membayar SPP. “Di kelas, aku hanya jadi pendengar.”

Solusi datang dari Allah saat ia bertemu seorang teman yang kemudian mengenalkannya pada seorang teman lain dari Medan. Dari teman yang terakhir, Aziz bertemu seorang mualaf yang mengelola pesantren khusus mualaf An-Naba’ Center, Syamsul Arifin Nababan.

                                                                         ***
Ustaz Nababan, demikian Aziz memanggilnya, mengizinkannya untuk tinggal di An-Naba’ Center dan mempelajari Islam tanpa dibebani kewajiban finansial. “Di sanalah aku mulai belajar Alquran secara intensif dan kemudian mulai menghafalnya.”

Atas perjuangan sang ustadz pula, Aziz dapat berkuliah di LIPIA . Di samping itu, semangat dakwah yang tinggi dalam dirinya mendorongnya untuk mendalami ilmu dakwah di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta Selatan. Selain berkuliah, pria yang bercita-cita menjadi dai ini juga sibuk berdakwah di berbagai tempat.

Mengenai keislamannya, Aziz mengaku puas dan tenang. “Subhanallah, kehidupan menjadi sangat indah dengan Islam.” Keindahan itu, katanya, tidak akan ia gadaikan dengan apapun. “Diiming-imingi apapun, dan diancam dengan apapun, aku tidak akan meninggalkan agama ini. Jiwa ragaku untuk Islam,” tegasnya.

Tentang cita-citanya, Aziz mengaku akan terus mempersiapkan diri untuk itu. Sulung dari tujuh bersaudara ini bertekad untuk terus menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang ‘mumpuni’ di bidang agama. “Setelah lulus S2, aku akan kembali ke Nias dan berdakwah di sana.”


READ MORE - Abdul Aziz: Bersyahadat karena Surah Maryam

Shariffa Carlo: dari Benci, Berubah Cinta Islam

Shariffa Carlo, dari Benci Berubah Cinta Islam
ilustrasi
SatriaBone-Sebaik-baiknya manusia berencana, Allah Yang Maha Besar yang menentukan. Demikian benang merah kisah perkenalan Shariffa Carlo dengan Islam. "Aku tahu seluk beluk tentang Islam. Tapi saat itu, aku memiliki agenda untuk menghancurkan Islam," kenang Sharifa.

Keterlibatan Shariffa dalam kelompok anti Islam boleh dibilang tidak sengaja. Saat itu, anggota kelompok itu melihat bakat dan kemampuannya seperti keahlian berdiplomasi dan menguasai isu-isu Islam dan Timur Tengah. "Orang itu lalu berkata padaku jika bergabung maka ada jaminan aku akan bekerja di kedutaan besar AS di Mesir. Dia ingin aku pergi kesana untuk berbicara dengan muslimah dan mendorong gerakan terkait hak-hak perempan," kata dia.

Saat itu, Shariffa melihat tawaran itu sungguh menarik. Belum lagi, hal yang diperjuangkan adalah perempuan. Sharifa paham betul, muslimah adalah individu tertindas. Tentu, niatan dirinya untuk membantu perjuangan para muslimah menjadi besar. "Aku ingin membawa mereka pada kebebasan," ucapnya.

Sebagai bekal pendekatan terhadap muslimah, Shariffa mulai mendalami Alquran dan sejarah Islam. Ia juga belajar bagaimana memutarbalikan fakta dalam Alquran untuk tujuan tertentu. Shariffa pun menyadari apa yang dilakukannya itu kian mendekatkan dirinya dengan Islam. "Aku mulai tertarik, tapi aku coba untuk menahan ketertarikan itu dengan mempelajari ajaran Kristen secara mendalam," kata Shariffa.

Niatan itu dilakukannya. Ia minta seorang teolog lulusan Harvard untuk menjadi pembimbingnya. Namun, pembimbingnya itu justru sosok yang meragukan sejumlah kepercayaan dalam kristen seperti masalah Trinitas dan kenabian Yesus.

"Diawal aku merasa ditangan yang benar, tapi ternyata profesor ini seorang yang percaya bahwa Yesus adalah seorang Nabi," kenang dia.

Shariffa pun kembali mencari penolakan atas kebenaran ini dengan mengkaji kembali isi alkitab berbahasa Yunani dan Ibrani. Ternyata, ia menemukan hal yang mengejutkan. Apa yang ia baca serupa dengan apa yang dipelajarinya.Kepercayaannya terhadap Kristen runtuh seketika. "Aku saat itu tidak bisa menerimannya, aku tetap memaksakan bahwa Kristen yang benar. Aku tidak siap menerima kebenaran Islam," katanya.

Seiring berjalannya waktu, pergulatan dalam diri Shariffa berakhir. Ia mulai untuk menerima secara perlahan kebenaran tentang Islam. Sebuah agama yang dahulu ia pergunakan  untuk menyebarkan pesan kebencian. Ia pun mulai banyak berdiskusi dengan muslim.

Suatu hari, Shariffa bertemu dengan sekelompok muslim yang tengah berkunjung. Entah mengapa, Shariffa begitu berkeinginan kuat untuk bertemu dengan mereka. Ia pun terlibat diskusi tentang Islam dan Kristen. "Aku tidak lagi bisa membohongi kebenaran nyara. Aku tahu itu kebenaran sejati. Aku lalu mengambil keputusan, Alhamdulillah, aku ingin menjadi seorang muslim," kenangnya haru.

"Saat aku bersyahadat dihadapan Allah SWT, seketika aku merasakan betapa beban dalam diriku hilang seketika. Aku begitu bahagia, dan merasa bersyukur dapat menjalani sisa hidup untuk menjadi muslim," pungkasnya.





READ MORE - Shariffa Carlo: dari Benci, Berubah Cinta Islam

27 May 2012

Cinta Terhadap Allah Menguatkan Jilbab Lara

Cinta Terhadap Allah Menguatkan Jilbab Lara
Wanita Muslim (Iustrasi).
SatriaBone-Menyelami kehidupan sebagai muslimah, membuat Lara mulai memahami bahwa Islam bukanlah agama buatan manusia. Islam adalah kebenaran. Yang menarik, Lara mengambil satu kesimpulan dimana setiap bayi yang lahir ke dunia sebenarnya adalah muslim.

"Awalnya aku tidak tahu bahwa Islam itu adalah universal tidak hanya milik masyarakat Timur Tengah. Alhamdulillah, semakin banyak pengetahuan yang aku dapat tentang Islam, aku semakin percaya bahwa Islam adalah agama yang logis," paparnya.

Lara pun kian mantap untuk menerima Islam, dan hidup sebagai muslima. Ia pun tak ragu untuk mengucapkan dua kalimat syahat. "Alhamdulillah, aku mengucapkan syahadat tak lama sebelum ramadhan. Aku seolah tak sabar untuk melaksanakan puasa pertama," kata dia.

Usai bersyahadat, ia segera menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Ia laksanakan shalat dan puasa. Ia kaji Alquran dan hadist. Tak berselang lama, Lara mulai mengenakan jilbab.

Lara mengaku di awal-awa merasa belum siap untuk berjilbabTapi rasa cintanya kepada Allah SWT membuat ia kuat untuk mengenakan jilbab. "Tak mudah memang mengambil langkah itu," katanya.

Ia tak memungkiri rrasa hawatir akan menerima perlakuan buruk dari orang lain, terutama keluarga. Karena itu, Lara tak langsung melainkah berlatih mengenakan jilbab. Ia hanya kenakan jilbab saat menuju masjid guna menghadiri pengajian. Perlahan, Lara mulai mengenakan jilbab secara permanen.

"Ada satu hari dimana aku akhirnya tidak bisa lagi keluar ruangan dengan kepala tanpa tertutup kain. Aku sadar, itu akan membuat orang lain heran. Tapi aku tidak mungkin menyenangkan setiap orang," kata dia yang setelah memakai jilbab, Lara merasa lengkap menjadi seorang muslim.

Yang membuat heran Lara, sebagian masyarakat Kanada kerap berkomentar soal jilbab. Padahal mereka tahu, bahwa para pelayan Gereja ada pula yang mengenakan tutup kepala. Namun, tiada ada seorang pun warga Kanada yang memprotes hal itu.

Semenjak itu, Lara pun mulai mendalami Islam. Ia belajar bahasa Arab dengan harapan mempermudahnya membaca Alquran. "Insya Allah, aku terus berjuang untuk menjadi muslimah yang saleh. Aku mulai dengan melawan sifat jahat dalam diri. Tentu tidak mudah, karena membutuhkan usaha yang terus menerus tanpa akhir," ungkapnya.


Sumber
READ MORE - Cinta Terhadap Allah Menguatkan Jilbab Lara

Recent Posts