Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

31 October 2012

Kurban Terbaik

Kurban Terbaik
Ahwansi | Beberapah hari lalu, umat Islam seluruh dunia merayakan Idul Kurban. Selain haji, pemotongan hewan kurban adalah ibadah pokok pada hari raya ini.

Jutaan hewan kurban akan dipotong sebagai wujud ketakwaan kita kepada Allah SWT. Namun, tidak semua kurban diterima di sisi Allah SWT. Karena, Allah hanya menerima kurban terbaik dan niat ikhlas karena Allah.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan, anak-anak Nabi Adam AS lahir dalam keadaan kembar, laki-laki dan perempuan, hingga berjumlah 20 pasang. Mereka kemudian tumbuh menjadi dewasa. Oleh karena ketika itu tidak ada manusia lain selain Nabi Adam AS dan keluarganya, maka Allah SWT memerintahkan Adam untuk menikahkah anak-anaknya secara silang.

Maka, Nabi Adam menikahkan putra tertuanya, Qabil, dengan kembaran putri keduanya Labuda. Sedangkan putra keduanya, Habil, dinikahkan dengan saudara kembar Qabil yang bernama Iqlima. Namun, Qabil enggan menikah dengan Labuda, dan dia lebih memilih saudara kembarnya sendiri, Iqlima.

Karena terus bersikeras, Adam meminta petunjuk kepada Allah untuk memecahkan persoalan tersebut. Qabil dan Habil disuruh untuk menyerahkan kurban yang diambil dari hasil usaha masing-masing. Bagi yang diterima kurbannya, dialah yang berhak menikah dengan Iqlima.

Disebutkan, Qabil mempunyai usaha peternakan sementara Habil berusaha di bidang pertanian. Sampai pada waktu yang telah ditentukan, masing-masing kemudian menyerahkan kurban mereka. Qabil menyerahkan hewan ternaknya dan Habil menyerahkan hasil pertaniannya.

Namun, Allah SWT ternyata hanya menerima kurban dari hasil pertanian Habil. Akibatnya, Qabil tidak terima dan menuduh bapaknya telah mendoakan Habil agar diterima kurbannya. Kejadian ini menimbulkan kebencian yang mendalam dari Qabil terhadap Habil. Iblis kemudian memanfaatkan kondisi ini untuk membujuk Qabil membunuh Habil, saudaranya sendiri. Maka, terjadilah pembunuhan pertama di muka bumi.

Padahal, tidak diterimanya kurban Qabil bukan karena keberpihakan Adam AS terhadap Habil, melainkan kurban yang diserahkan Habil lebih berkualitas dibanding kurban Qabil. Habil memilih yang terbaik dari hasil pertaniannya. Sementara, Qabil memilih ternak yang paling buruk kualitasnya. Allah SWT Mahabaik dan hanya menerima yang baik-baik pula.

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa setiap amalan harus dilakukan dengan cara yang baik dan bersumber dari yang baik pula. Kita harus mendirikan shalat yang terbaik, puasa yang terbaik, zakat dengan harta yang terbaik, dan kurban dengan hewan yang terbaik pula.

Allah SWT adalah Zat yang Mahabaik dan hanya menerima amalan yang terbaik pula. Amalan yang terbaik hanya bisa dilakukan oleh hamba yang terbaik. Sedangkan, hamba yang terbaik di sisi Allah SWT adalah orang-orang yang bertakwa (muttaqin).

Orang yang bertakwa akan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Mereka dijanjikan sebagai penghuni surga. (QS Muhammad : 15). Wallahu a’lam.
READ MORE - Kurban Terbaik

11 October 2012

Visi Seorang Muslim

Visi Seorang Muslim
Ahwansi |Ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan seorang sahabat Anshar yang berkecukupan secara materi, yaitu Saad bin Rabi'. 

Sebagai seorang Muslim, Saad telah memiliki visi besar yang hendak diraihnya dalam kehidupan dunia akhiratnya. Maka, atas dorongan imannya yang kuat dan penuh keyakinan, Saad menawarkan separuh dari apa yang dimilikinya kepada Abdurrahman bin Auf.

“Saya memiliki dua rumah dan dua kebun. Jika engkau berkenan saudaraku, ambillah separuh darinya. Saya juga punya dua orang istri, jika engkau berkenan silakan lihat satu di antaranya. Niscaya aku akan menceraikannya untukmu,” demikian tawaran Saad bin Rabi'.

Aneh dan sangat mengejutkan, Abdurrahman bin Auf justru menolak semua permintaan Saad bin Rabi' itu. Abdurrahman berkata kepada Saad bin Rabi', “Tidak saudaraku, aku tidak membutuhkan semua itu. Semoga Allah memberikan keberkahan bagi harta dan keluargamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.”

Kisah ini sangat mengagumkan. Bagaimana mungkin ada seorang manusia yang rela memberikan separuh harta yang dimilikinya untuk saudara seimannya. Dan, lebih mengagumkan lagi, bagaimana ada seorang manusia yang mendapat tawaran harta lalu menolaknya dengan penuh kesantunan. 

Berbeda dengan saat ini, di mana sebagian orang yang kaya memiliih hidup kikir dan yang miskin begitu bernafsu mendapatkan bantuan. Bahkan umumnya, manusia kini sibuk berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Sebagian besar malah tidak peduli lagi dengan cara mendapatkannya, halal atau haram, semuanya disikat habis.

Sebagai seorang Muslim, kisah antara Saad bin Rabi' dan Abdurrahman bin Auf sangat layak dijadikan bahan renungan bagi kita semua, guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Keduanya sama sekali tidak terbelenggu oleh kenikmatan harta dunia.

Sebagai seorang Muslim yang memulai hidup baru, dengan hanya memiliki pakaian di badan, Abdurrahman bin Auf memiliki etos kerja yang tangguh. Visinya untuk menjadi seorang Muslim yang paling bermanfaat bagi perjuangan umat Islam, mengantarkannya sebagai seorang pedagang sukses. Sampai akhirnya dia berhasil menjadi konglomerat. 

Tetapi, karena visi ukhrawinya yang kuat, ia tidak terjebak pada kekayaan yang digenggamnya. Ia berhasil keluar dari jebakan harta dunia yang telah menenggelamkan Qarun dan menistakan Tsa'labah.

Seolah tidak mau kalah dari Saad bin Rabi' yang begitu dermawan, ketika ia telah menjadi seorang konglomerat, seluruh harta yang dimilikinya, sepenuhnya disedekahkan untuk perjuangan dan kelangsungan hidup umat Islam. Bahkan, Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan 700 ekor unta dan muatannya untuk umat Islam. Suatu peristiwa istimewa yang tentu untuk hari ini sangat langka kita menemukannya.

Siapa yang lebih memilih mencintai harta dunia daripada mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka belumlah sempurna keimanannya. (QS Ali Imran [3]: 92). Padahal, hanya dengan kesempurnaan iman visi seorang Muslim benar-benar akan merealita. Yakni, menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.
READ MORE - Visi Seorang Muslim

07 October 2012

Belajar Ikhlas

Belajar Ikhlas
Ahwansi |Ikhlas itu kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Karena itu, kita perlu belajar dan membiasakan diri menjadi mukhlis (orang yang ikhlas). 

Dari segi bahasa, ikhlas itu mengandung makna memurnikan dari kotoran, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan kita dalam melakukan suatu amalan.

Ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, seperti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

Ungkapan “semata-mata karena Allah SWT” setidaknya mengandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih al-niyyat), sesuai tata caranya (shalih al-kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari rida Allah SWT (shalih al-ghayat), bukan karena mengharap pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah SWT.

Beribadah secara ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang saleh karena ikhlas mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan atau menuhankan selain- Nya. “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS An-Nisa’ [4]: 36).

Jika ikhlas sudah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten). (QS Al-Bayyinah [98]: 5). Selain kunci diterima tidaknya amal ibadah kita oleh Allah SWT, ikhlas juga membuat “kinerja” kita bermakna dan tidak sia-sia. Kinerja yang bermakna adalah kinerja yang berangkat dari hati yang ikhlas.

Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga. Pertama, ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.

Kedua, ikhlash khawas,ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.

Ketiga, ikhlash khawas al-khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Mahasegala-galanya.

Ikhlas merupakan komitmen ter ting gi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS Al-An’am [6]: 162).

Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itu merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan (Iblis). Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis adalah orang-orang Mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan.

Ikhlas sejatinya juga merupakan “benteng pertahanan” mental spiritual Mukmin dari kebinasaan atau kesia-siaan dalam menjalani kehidupan. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.”
READ MORE - Belajar Ikhlas

01 October 2012

Jalanan Juga Punya Hak

Jalanan juga Punya Hak
Ahwansi | Diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW menegur para sahabat dan orang-orang Muslim yang sedang bergerombol duduk di pinggir jalan. Mereka bercengkerama dan berdiskusi di tempat itu lantaran tidak adanya balai pertemuan. Rumah-rumah mereka juga tidak begitu luas.

Rasulullah menegur mereka untuk pindah dari tempat itu dan meninggalkan kebiasaan lama bergerombol dan mengobrol di pinggir jalan. Namun, para sahabat keberatan karena tidak ada tempat yang layak untuk berkumpul.

“Ya Rasulullah, kami terpaksa memakai tempat ini sebagai tempat berdis kusi.” Kemudian Rasul bersabda, “Kalau memang kalian enggan pindah, maka tunaikanlah haknya.” Para sahabat itu bertanya, “Apakah hak jalan itu?”

Pertama, Rasul menjawab, ghaddul bashar, yaitu menundukkan pandangan. Setan akan terus berusaha dengan segala macam cara untuk menggelincirkan manusia dari jalan ketaatan menuju kemaksiatan.

Begitu banyak kenikmatan sesaat dan pemandangan elok di sekitar jalan. Saat kita menurutinya, kita telah melakukan kemaksiatan dan tanpa sadar hal itu akan melalaikan diri dari ibadah. Menundukkan pandangan adalah solusi agar kita terus ingat hakikat diri bahwa kita seorang hamba yang patut berlindung kepada Allah SWT.

Kedua, kafful adzaa, yakni tidak mengganggu dan menyakiti orang lain. Duduk-duduk di sekitar jalan tanpa pekerjaan akan mengakibatkan kekosongan pikiran. Hal itu dapat menggiring pada tindakan yang tidak bermanfaat, seperti ghibah, mengumpat, mengganggu pejalan kaki, hingga menyakiti orang lain. Semuanya seakan tampak menyenangkan, padahal hakikatnya sangatlah merugikan.

Ketiga, raddus salam, menjawab salam. Menebar salam sesama Muslim merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan, terlebih menjawabnya. Tidak akan gugur kewajiban menjawab salam bagi sekelompok orang, hingga salah satu dari mereka ada yang menjawabnya. Dengan menebar dan menjawab salam di jalan, selain sebagai bentuk doa, juga menjadi media untuk saling mengenal sehingga akan tercipta keamanan dan ketertiban.

Keempat, al-amru bil ma’ruf, mengajak pada kebaikan. Meski berada di jalan, hendaknya tetap melakukan kebaikan. Kebaikan tidak harus dalam bentuk besar, tapi juga bisa dengan cara yang kecil dan mudah. Misalnya menunjukkan arah (lokasi) yang benar bagi pejalan kaki atau orang-orang yang membutuhkan informasi penting.

Adapun hak jalan kelima yang wajib dipenuhi adalah an-nahyu ‘anil munkar, mencegah kemunkaran. Pada dasarnya setiap pribadi manusia adalah khalifah di muka bumi. Ia memiliki tugas menebar kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuannya. Caranya bisa dengan tindakan, ucapan, maupun sekadar ketukan dalam hati. Sesungguhnya Allah SWT tidak membebani manusia melebihi batas kemampuannya. (QS Al-Baqarah [2]: 286.

Sungguh indahnya saat pengguna jalan, mulai dari pejalan kaki hingga mereka yang duduk-duduk di sekitar jalan untuk saling menghargai dan menunaikan haknya. Suasana tenang pasti akan terasa. Keamanan akan tercipta dan kesemrawutan jalan akan sirna karena setiap pribadi tak lagi mementingkan dirinya sendiri.
READ MORE - Jalanan Juga Punya Hak

30 September 2012

Merindukan Pemimpin Adil

Merindukan Pemimpin nan Adil

Ahwansi | Alkisah yang terdapat dalam buku Dakwah yang ditulis Fethullah Gulen, Sa’ad Ibn Abi Waqqash RA —sahabat Nabi Muhammad SAW, yang termasuk salah seorang dari 10 sahabat nabi yang akan memperoleh surga— adalah seorang panglima perang tentara Islam yang sukses menaklukkan musuh-musuh Islam pada saat itu.

Ia juga termasuk menaklukkan Persia pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khathab RA. Atas kesuksesannya itu, Sa ad Ibn Abi Waqqash dipercaya Khalifah Umar untuk menjadi gubernur di beberapa daerah yang telah ditaklukkan.

Pada suatu waktu, seorang rakyat miskin yang tinggal di wilayah kekuasaan Sa’ad mengadukan sang gubernur kepada Khalifah Umar bin Khathab, karena perlakuan kesewenang- wenangan seorang gubernur yang dianggap menzalimi rumah pribadinya.

Padahal, kebijakan pemerintah Khalifah Umar, tidak dibenarkan seorang gubernur daerah berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat yang berada di bawah kepemimpinan kekuasaannya.

Jika hal tersebut dilakukan, sama artinya dengan melakukan suatu tindakan kemunkaran. Kemudian Umar bertanya kepada yang mengadukan. “Apakah ada keluhan lain selain yang Anda rasakan itu dari gubernur.”

Penggugat menjawab, “Ada, sesungguhnya gubernur Sa’ad lalai dalam mendirikan shalat berjamaah.”

Umar menduga pengaduan yang diajukan itu, sepertinya mustahil dilakukan seorang sahabat terkemuka seperti Sa’ad Ibn Abi Waqqash yang tidak dapat menunaikan shalat berjamaah secara istiqamah.

Sikap Khalifah Umar bin Khathab sebagai pemimpin pemerintahan tertinggi, berani dan tegas mengambil tindakan hukum. Jika ada yang benar, akan dikatakan benar. Sebaliknya, jika terbukti bersalah kepada siapa pun, dia akan menegakkan aturan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Umar akan bersikap adil, tidak diskriminatif dalam menyelesaikan masalah hukum, termasuk kepada Gubernur Sa’ad Ibn Abi Waqqash. Prinsip yang dipegang Umar adalah Alquran yang menjadi firman Allah SWT, “.... apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil ...” (QS An-Nisa [4]: 58).

Tampaknya, kondisi bangsa kita saat ini sedang diuji dengan berbagai tindakan kekerasan, teror antara satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Akibatnya, menimbulkan korban jiwa meninggal dunia dan kerugian finansial yang cukup banyak, seperti terjadi di Sampang, Madura.

Akar masalahnya, antara lain, karena lemahnya penegakan hukum dengan adil, sikap diskriminatif dari penegak hukum sehingga menyentuh pe rasaan keadilan yang paling dalam dari suatu kelompok masyarakat.

Di samping itu, dampak dari lemahnya penegakan hukum itu juga mengakibatkan tidak adanya sikap jera dari orang-orang yang melanggar hukum. Sehingga, mereka selalu memiliki keinginan mengulangi perbuatan tersebut.

Sesungguhnya, peristiwa Sampang, Madura, harus menjadi pelajaran berharga bagi kita bersama. Kita berharap, kasus serupa tidak terulang lagi, dimana pun di bumi pertiwi yang kita cintai ini. Bangsa kita membutuhkan hadirnya seorang pemimpin yang berani menegakkan keadilan secara arif di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen. Wallahu a’lam.
READ MORE - Merindukan Pemimpin Adil

Keutamaan Rasulullah SAW

Keutamaan Rasulullah SAW

Ahwansi | Sungguh keutamaan Rasulullah SAW di antara para nabi dan rasul lain di antaranya terletak pada sifat wahyunya yang umum, menyeluruh dan berlaku bagi semua umat manusia.

Allah SWT berfirman, "Katakanlah (Muhammad), "Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua." (QS. Al-A'raf: 158).

Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Saba': 28).

Oleh karenanya, mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW bersifat nonmateri, mudah dipahami akal sehat dan abadi. Berbeda dengan mukjizat para rasul sebelumnya yang bersifat materi dan terbatas dari sisi waktu dan tempat.

Mukjizat Musa AS misalnya, berupa tongkat yang dapat berubah menjadi ular yang menelan ular sulapan para ahli sihir Firaun. Sedangkan mukjizat Alquran menggetarkan hati dan jiwa; sesuai dengan landasan akal manusia; dan tidak lekang oleh waktu. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang  menurunkan Alquran,  dan pasti Kami (pula) yang  memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).

Oleh sebab itu pula, syariat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW merupakan syariat terakhir dan penyempurna dari syariat-syariat sebelumnya. Perhatikanlah syariat shalat, zakat, puasa dan haji yang merupakan penyempurnaan dari model syariah para rasul terdahulu dan tidak diperkenankan perubahan di dalamnya sampai kapan pun.

Allah SWT berfirman, "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agamamu dan Ku-cukupkan nikmat-Ku kepadamu serta Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu." (QS. Al Maidah: 3).

Tepatlah kemudian jika Allah SWT menempatkan Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir karena kapabelitasnya dari semua segi. Semua peristiwa dan penyelesaian yang dilakukan oleh rasul-rasul terdahulu bahkan semua peristiwa masa lampau telah menjadi bekal dalam diri Muhammad SAW untuk menghadapi persoalan umatnya, sehingga di dalam mencari jalan penyelesaian beliau melakukan berbagai modifikasi untuk mendapatkan solusi terbaik.

Saat ditanya mengenai keengganannya menggunakan doa pamungkas, Rasulullah SAW menjawab, "Aku menggunakan doaku (doa pamungkas) untuk kepentingan pemberian pertolongan (syafaat) bagi umatku, nanti pada hari kiamat.”

Pantas pula jika kemudian Allah memperlakukan rasul-Nya yang satu ini dengan perlakuan yang berbeda dari rasul-rasul lainnya. Lihatlah bagaimana Allah SWT tidak pernah memanggil namanya kecuali dengan mengikutsertakan jabatan kerasulan di belakangnya.

Hal tersebut berbeda dengan rasul-rasul lain yang langsung disebut namanya oleh Allah SWT. "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, bersikap kasih sayang terhadap sesama mereka." (QS. Al Fath: 29).

Pantas lah lagi jika kemudian Allah SWT menjadikannya sebagai teladan terbaik dalam hubungannya dengan manusia dan Tuhan; dunia dan akhirat; orang-orang mukmin dan kafir; serta hubungannya dengan semua makhluk tanpa kecuali. Allah SWT berfirman, "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta memperbanyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzab: 31).

Inilah Muhammad SAW yang keutamaannya di antara para rasul menjadi inspirasi keutamaan bagi setiap pribadi Muslim atas pribadi lain karena banyaknya kebaikan dan kemanfaatan bagi sesama. Wallahu a'lam.
READ MORE - Keutamaan Rasulullah SAW

Recent Posts